Beliau meninggal dengan tenang seusai mandi pagi, duduk di kamarnya dan minta diputarkan kaset murotal. Sesaat kemudian, beliau nampak tertidur, namun Bapak tidak merespon lagi ketika dibangunkan oleh sepupu saya. Pagi itu, Bapak menutup mata dalam usia 72 tahun. Saya cuma bisa terpaku saat itu, tak tahu harus berbuat apa, air mata pun tak menetes. Belum hilang rasanya duka saya kehilangan Mama, sekarang .... Bapak pun menyusul.
Bapak memang punya penyakit jantung dan ditubuhnya dipasang semacam alat untuk membantu denyut jantungnya. Tapi di pagi hari wafatnya, Bapak tidak mengeluhkan sakit apa-apa. Saya teringat ketika Bapak operasi jantung beberapa tahun yang lalu, Mama sempat bilang, Bapak mungkin akan "pergi" duluan. Tapi tak ada yang bisa menebak usia manusia. Ternyata Mama dulu yang berpulang, dan akhirnya Bapak. Mama dan Bapak hanya sempat melihat satu cucunya, yang waktu itu masih kecil. Karena dua cucunya yang lain lahir kemudian.
Bagi kami anak-anaknya, kepergian Bapak yang cuma selang setahun dengan kepergian Mama, adalah bukti ikatan cinta yang kuat dari keduanya. Karena kami sering memperhatikan, Bapak sering termenung dan melamun sejak kepergian Mama. Meski tak pernah ia ucapkan, saya bisa melihat jelas mendung dan kesedihan di matanya. Bapak hanya tersenyum ketika melihat polah cucunya yang masih bayi. Selebihnya, beliau hanya bicara seperlunya dan banyak diam.
Sebagai anak pertama, banyak kenangan indah yang saya lewatkan bersama Bapak sejak saya kecil. Yang saya tahu, Bapak tidak pernah bisa marah menghadapi kenakalan enam anaknya yang semua perempuan. Kalaupun marah, Bapak tidak pernah mengeluarkan suara keras, apalagi bentakan. Bapak paling anti memukul anak. Paling menjewer telinga, dan itupun sama sekali tidak terasa sakitnya.
Meski cuma pegawai rendahan, Bapak selalu berusaha menyenangkan anak-anaknya. Saya ingat, waktu kami kecil, Bapak selalu mengusahakan mengajak kami liburan di hari Minggu setiap bulan, sehabis beliau menerima gaji atau membelikan kami mainan. Bapak termasuk keras dalam mendidik anak-anaknya, keras dalam artian disiplin, apalagi dalam masalah urusan sekolah.
Meski demikian, Bapak termasuk orang yang demokratis. Tidak pernah mewajibkan anaknya untuk jadi juara kelas atau menjadi sesuatu yang diinginkannya. Kami semua dibebaskan untuk memilih ingin jadi apa. Yang selalu Bapak tegaskan, kami semua harus bertanggung jawab dengan pilihan kami masing-masing. Bapak selalu bilang, sebagai orang tua, dia tidak punya harta untuk diwariskan pada anak-anaknya, "Tapi Bapak ingin mewariskan ilmu, yang bisa menjadi bekal hidup kalian kelak ..." perkataan Bapak yang selalu saya ingat.
Itulah sebabnya, ketika saya sudah mulai bisa membaca. Bapak mulai memberikan saya banyak buku-buku atau membelikan majalah anak-anak. Bapak pulalah yang mengenalkan saya dengan berbagai jenis musik. Bapak memang penggemar musik. Hobi Bapak adalah mendengarkan lagu-lagu dari penyanyi kesayangannya, tentu saja penyanyi-penyanyi jadul macam Skeeter Davis, Victor Wood, Frank Sinatra, ABBA, dan sebagainya. Musik dan buku ... rasanya hobi Bapak ini yang menurun pada saya hingga saya dewasa.
Cuma satu kelemahan Bapak, sebagai seorang Muslim, Bapak belum melaksanakan kewajibannya, terutama salat dan puasa. Dalam soal pengetahuan agama, Bapak memang sangat kuran. Tapi kalau soal beramal materi, meski kami bukan orang kaya, Bapak bukan tipe orang yang pelit. Bagi Bapak, yang penting sebagai manusia, harus bersikap baik dan tidak menyakiti orang lain. Ketika kecil, saya tidak terlalu mempedulikan alasan Bapak itu. Barulah pada saat SMA, saya mulai membujuk Bapak dan berusaha menjelaskan, bahwa sebagai Muslim ada kewajiban-kewajiban rutin yang harus dipatuhi dan tidak cukup dengan berbuat baik saja. Saya juga mulai meminta Bapak mengurangi rokoknya karena Bapak sudah mulai sering sakit.
Ketika itu, Bapak masih tidak mau mendengar penjelasan saya soal menjalankan salat atau puasa. Masih masih tetap kukuh pada pendiriannya. Dan inilah yang kadang menjadi pangkal pertikaian saya dengan Bapak. Sampai saya merasa tidak lagi dekat dengan Bapak. Sungguh, waktu itu, bukan maksud saya untuk melawan Bapak, tapi saya cuma ingin bisa bertemu kembali dengannya di hari akhir nanti. Tapi Bapak, tetap tak berubah. Kadang dengan berurai air mata, saya berdoa pada Allah agar memberikan hidayahNya pada Bapak.
Bapak tetap tak mau berubah, meski saat itu beliau sudah menderita penyakit jantung dan jantungnya harus dibantu dengan alat. Kami anak-anaknya selalu mengingatkan Bapak untuk mulai belajar salat. Begitu lama rasanya saya mendapat jawaban dari Allah atas doa-doa saya. Saya tak tahu kapan persisnya, sekitar dua tahun sebelum Bapak berpulang. Bapak tiba-tiba minta dibelikan buku tatacara salat dan minta diajari salat. Beliau juga dengan susah payah berusaha menghapal bacaan-bacaan salat.
Kami semua anak-anaknya, tentu saja bahagia dan bersyukur atas perubahan itu. Allah telah memberikan hidayahNya pada Bapak. Sejak itu, Bapak mulai menunaikan salat lima waktu, meski kadang kumat juga malasnya. Seiring dengan berjalannya waktu ... Bapak bisa rutin salat, bahkan belajar berpuasa di usianya yang sudah senja. Hingga di akhir hayatnya .... setahu saya, Bapak tidak pernah meninggalkan kewajiban salatnya.
Ah, Bapak ... entah bagaimana saya harus mengungkapkan perasaan saya tentang Bapak. Tahukah Bapak, bahwa saya sangat sayang pada Bapak, meski rasa sayang itu tak pernah terucap dari bibir saya. Bapak berpulang ketika mungkin ia masih ingin menikmati indahnya beribadah. Tapi Allah jualah yang memutuskan semuanya. Saya yakin, Allah sayang pada Bapak dan memberikan Bapak tempat yang terindah di alam sana. Bapak ... kami semua mencintaimu dan doa kami selalu menyertaimu dan mama.
Pojok kantor,
21 Agustus 2008
"Menulis Tentang Bapak Yuk!"
http://bundaelly.multiply.com/journal/item/109