Friday, January 22, 2010

Celebrating Birthday (Muslim Monday)


Maybe it's too late to respon Muslim Monday discussion in which this week takes Celebrating Birthday as a theme. I read some posts with different opinions on celebrating birthday. I enjoy reading the posts that give me many perspectives from various people about celebrating birthday based on cultural, religion or traditions but mostly from islamic point of view.


My multiply brother Abdullah Munawar for example, wrote that he sees celebrating birthday with a very negative connotations. He said that birthdays are no more than just a celebration and a very important in societes which are further from Islamic practices. That's why he said he will never ever celebrates birthday and he thank God for it.

A quite different opinion come from my online sister, Maryam. She wisely said that celebrating birthday is not a religious celebration but more as something cultural. But she think it's haram if someone spend huge amount of money to celebrate birthday, to make it a huge celebration party and forget to thank Allah for His blessings.

I don't want to take a side. I see no wrong with both opinions, instead it enriches one another and that what we can take from a discusion to broaden and open up our mind. Talking about celebrating birthday, maybe we can take as an example  celebrating prophet (PBUH)'s birthday practised by many muslims around the world that is still become controversy. Some people said it's not allowed based on opinion that companions of the prophet Muhammad (PBUH) never celebrate prophet's birthday. Some people said it's allowed to celebrate prophet's birthday to remind people about the prophet's life and his call.

But a prominent muslim scholar Yusuf Al-Qaradawi warns us to celebrate it in a proper way not include the innovasion in celebration. He said that if it done i the proper way, it will serve a great purpose, getting Muslims closer to teachings of Islam and to the prophet's sunnah and life.

I think celebrating our birthday is the same case in relation with not including innovations to our birthday celebration and or spend much money to make a big party. On our birthday we thank Allah for his blessings and at the same time we come to realize that we are getting older, our age reduce and that means our oppurtinities to live in the world getting shorter and shorter. to be aware of this matter we should be more faithful to God. So, according to my opinion, it's ok for us to celebrate birthday as long as we celebrate in proper way.

I had a birthday party once in my lifetime when i was still a kid. I always try to remember my friend, my sisters, my nieces and my nephews birthday so i can give them a call to say happy birthday or send a birthday greeting and make a dua for them. Or i take my birthday as a good moment for family gathering, especially to my relatives who rarely see each others because of their respective activities.


Sunday, January 10, 2010

Pesan-Pesan Rahasia di Balik Film Sherlock Holmes

Baiklah, ini adalah untuk yang keduakalinya nonton bioskop di barisan paling depan. Kalau posisi duduknya pas di tengah mungkin masih enak, tapi ini di sisi kiri layar. Jadilah nonton dengan kepala rada miring ke kanan dan mendongak ke atas. Kepalang basah soalnya, setelah kehabisan tiket di pertunjukkan pukul 19.00 akhirnya nonton yang jam 21.15 film hasil pilihan dari sekian film yang pengen ditonton akhir pekan kemarin, Sherlock Holmes ... meski dapet tempat duduk dengan posisi yang sangat amat tidak nyaman.

Sherlock Holmes dari sedikit review yang saya baca sebelum memutuskan nonton, saya pikir adalah cerita detektif biasa yang memecahkan teka-teki dibalik sebuah kasus kejahatan. Tapi film yang mengadaptasi kisah detektif swasta Sherlock Holmes karya penulis asal Skotlandia, Arthur Conan Doyle
ini ternyata didalamnya sarat dengan propaganda Zionisme, yang menurut saya sangat kasat mata dan vulgar, terutama begitu memasuki pertengahan film ketika tokoh antagonis bernama Lord Blackwood  mengungkapkan keinginannya untuk memimpin sebuah ordo yang bukan hanya akan menguasai dunia tapi akan mengubah tatanan dunia menjadi sebuah tatanan dunia baru.

Bagi orang awam, pernyataan-pernyataan Lord Blackwood soal ambisinya menguasai dunia dan membentuk tatanan dunia baru yang (sebenarnya) menjadi tema sentral  film Sherlock Holmes ini mungkin cuma pernyataan biasa layaknya seorang tokoh jahat ambisius dalam sebuah film. Tapi bagi mereka yang mendalami gerakan Zionisme dan beragam konspirasi jahat yang dilakukan kaum Zionis di dunia,  pastilah sangat paham apa makna
"tatanan dunia baru" dan dampaknya bagi umat manusia di dunia. Apalagi dalam penggalan dialog di film tersebut, tokoh antagonis itu mengatakan (saya tidak ingat kalimat persisnya) akan menjadikan Amerika sebagai pusat kekuasaannya. Belum lagi, penggunaan lambang Bintang Daud ( yang menjadi lambang gerakan Zionis dan lambang bendera Israel) dalam film tersebut, yang dijadikan kunci untuk memecahkan teka-teki "tindak kriminal" yang dilakukan Lord Blackwood dan kroni-kroninya.

Pada titik itu, saya yang tadinya antusias mencermati 'kecerdasan' seorang Sherlock Holmes malah jadi tertawa 'getir'. "Sialan nih film, gue ditipu habis-habisan dan dijejelin propaganda Zionis", umpat saya dalam hati.

Saya jadi ingat perkataan mantan menteri kesehatan Siti Fadillah Supari saat menjadi keynote speaker Kongres Zionisme bulan Desember kemarin. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bangsa ini bahwa ideologi Zionisme merasuki seluruh kehidupan kita, bukan hanya di Indonesia tapi seluruh masyarakat dunia, dengan cara-cara yang amat sangat halus lewat isu ham, demokrasi, kebebasan berekspresi dan hampir seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga tanpa disadari orang akan menganggap ideologi itu sebagai sebuah kewajaran tanpa mengetahui apa tujuan dahsyat dibalik ideologi tersebut. Termasuk  isu tatanan dunia baru (The New World Order).



Gerakan Zionisme Internasional yang digagas oleh seorang Yahudi bernama Theodore Hertzl. Gerakan ini merupakan gerakan yang sangat rapi dan sistematis yang bukan sekedar ingin menyatukan orang-orang Yahudi diaspora dalam satu negara bernama Israel di tanah Palestina. Tapi sebuah gerakan yang agenda besarnya adalah membentuk tatanan dunia baru dengan semboyan  “Novus Ordo Seclorum” (semboyan ini tertulis dalam mata uang dollah AS),  dimana kaum Zionis menjadi TUAN dan manusia diluar mereka menjadi budak dan pada saat yang sama menghancurkan semua agama. Para pengusung *New World Order ini punya misi rahasia;

1. Menciptakan satu pemerintahan dunia
2. Menciptakan satu pemimpin dunia
3. Menciptakan satu kepercayaan (baru) dunia
4. Menjaga dan melindungi ras unggul (orang-orang kulit putih sehat, melalui pengendalian jumlah penduduk)
5. Menjadikan warga negara dunia ketiga sebagai pembantu atau buruh.

Dan kita semua sudah mahfum bahwa kelompok-kelompok lobi Yahudi Zionis, kini menjadikan negara AS sebagai pusat kendalinya. Persis seperti apa yang dikatakan Lord Blackwood di film Sherlock Holmes.

Semua gambaran itu tersirat dengan jelas dalam film Sherlock Holmes. Jadi, jangan terlalu naif melihat Sherlock Holmes cuma film biasa tentang seorang detektif yang cerdas dan 'nyleneh' yang memecahkan teka-teki tindak kriminal berlatarbelakang ilmu hitam karena dibalik itu semua, sejatinya film ini adalah ajang propanda terselubung gerakan kaum Zionis yang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya menguasai dunia dan membentuk sebuah Tatanan Dunia Baru.


tanda * dikutip dari buku The Deadly Mist, karya Jerry D. Gray

Monday, December 28, 2009

Gaza Tak Pernah Sendiri


"We will not go down

In the night, without a fight
You can burn up our mosques
and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight ..."

Itulah sebagian bait lagu "We Will Not Go Down" yang ditulis musisi
AS keturunan Suriah, Michael Heart tahun 2008 lalu, untuk warga Jalur Gaza yang ketika itu dibantai dengan keji oleh pesawat-pesawat tempur Zionis Israel.

Ya, setahun yang lalu, antara akhir Desember sampai Januari 2008, masyarakat dunia menyaksikan bagaimana mesin-mesin pembunuh militer Israel membombardir wilayah Gaza dan membantai penduduknya yang ta
k berdosa. Israel menggelar "Operasi Cast Leads" dengan dalih memberangus gerakan Hamas yang menguasai wilayah itu sejak tahun 2007. Hamas adalah faksi perjuangan di Palestina yang gencar melakukan perlawanan terhadap penjajahan dan kebiadaban Zionis Israel di Palestina.

Sebelum menggelar operasi brutal itu, Israel sudah setahun memberlakukan isolasi terhadap Jalur Gaza yang berpenduduk 1,5 juta jiwa. Israel menutup semua perbatasan dengan Gaza, warga Gaza tidak diijinkan keluar masuk perbatasan, membatasi pasokan makanan dan obat-obatan, memutus aliran listrik ke Gaza dan pembatasan lainnya yang menyebabkan krisis kemanusiaan paling buruk di Gaza.

Dalam kondisi tidak berdaya akibat blokade itulah, Israel menggempur Gaza tanpa ampun, membunuh warga sipil tak berdosa dan tak bersenjata, bahkan petugas medis dan wartawan ikut menjadi korban keganasan
tentara-tentara Zionis. Sekitar 1.400 warga Gaza gugur syahid dalam pembantaian itu, termasuk anak-anak dan kaum perempuan, dan ribuan orang lainnya luka-luka dan cacat tubuh.

Setahun sudah tragedi kemanusiaan itu berlalu. Luka dan trauma war
ga Gaza belum lagi sembuh. Blokade Israel pun masih berjalan yang membuat warga Gaza makin menderita, mereka bukan cuma kesulitan makanan, air bersih, listrik dan obat-obatan, tapi juga kesulitan mendapatkan bahan bangunan untuk membangun kembali rumah mereka yang hancur oleh bom-bom Israel.



Tapi Gaza tak pernah sendiri. Di bagian dunia ini masih ada umat manusia yang memiliki hati dan kepedulian pada sesamannya. Itulah yang menggerakan aktivis-aktivis kemanusiaan di berbagai negara untuk menggalang aksi kemanusiaan dan solidaritas terhadap warga Gaza bulan Januari mendatang dengan menggelar aksi long march "Freedom Gaza March" di Jalur Gaza. Sekitar 1.000 aktivis dari 42 negara akan berpartisipasi dalam aksi yang bertujuan untuk menekan Israel agar mengakhiri blokadenya terhadap warga Gaza. Mereka adalah notabene orang-orang bule dan non-Muslim yang menunjukkan kepeduliannya yang besar pada warga Gaza.

Tapi apa lacur, negara Muslim bernama Mesir justeru ingin menggagalkan aksi damai tersebut. Mesir sengaja menutup perbatasan Rafah, satu-satunya pintu gerbang yang menjadi akses ke Jalur Gaza dan melarang masuk sebagian aktivis perdamaian yang sudah berkumpul di Kairo.

Sekarang, para aktivis itu membuka tenda di depan kantor perwakilan PBB di Kairo dan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes atas sikap pemerintah Mesir. Mereka berharap PBB menekan Mesir agar mengijinkan mereka masuk ke Gaza dan bisa menggelar aksi solidaritas "Freedom Gaza March" bulan Januari 2010 mendatang.

Subhanallah, selayaknyalah kita yang muslim bercermin pada kepedulian mereka yang sampai rela melakukan mogok makan demi menunjukkan simpatinya pada warga Gaza. Bahkan mungkin rela mengorbankan acara tahun barunya, demi Gaza. Bagaimana dengan kita ?

"We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques
and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight ..."