Thursday, September 3, 2009

Setiap 4 September, Mengapa Ada Hari Jilbab Internasional?


Ketua Assembly for the Protection of Hijab, Abeer Pharaon lewat situs Islamonline bulan Juli kemarin menyerukan umat Muslim se-dunia untuk menjadikan Hari Jilbab Internasional yang jatuh setiap tanggal 4 September sebagai hari solidaritas untuk mengenang Marwa Al-Sharbini, seorang muslimah asal Mesir yang dibunuh oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia di ruang sidang kota Dresden, Jerman awal Juli lalu.


cerita lengkapnya di sini : Antara Marwa Al-Sharbini dan Michael Jackson

Abeer mengatakan, Marwa Al-Sharbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. "Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijab Sedunia," kata Abeer.

Jilbab memang masih menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Bukan hanya di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya non-Muslim, bahkan di negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Indonesia. Bukti bahwa jilbab masih belum sepenuhnya mendapat tempat di negeri ini salah satu contohnya, masih banyak rumah-rumah sakit di negeri ini yang memberlakukan larang berjilbab terutama bagi tenaga perawatnya dan masalah ini masih belum menjadi perhatian para pemimpin di negeri ini yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap hak-hak sipil seluruh warga negaranya.

Tapi itulah faktanya, jika di negeri Muslim seperti Indonesia saja jilbab masih menjadi hal yang menakutkan, bukan hal yang mengherankan jika banyak muslimah berjilbab di negeri-negeri non-Muslim yang mengalami diskriminasi, pelecehan dan penghinaan hanya karena mengenakan jilbab. Bahkan di beberapa negara, jilbab terang-terangan dilarang. Itulah sebabnya mengapa ada Hari Solidaritas Jilbab Internasional, karena banyak muslimah yang masih harus memperjuangkan hak-haknya untuk menjalankan perintah agamanya dalam hal ini perintah mengenakan jilbab.

Berawal Dari Inggris

Bulan Juli tahun 2004, tokoh-tokoh Muslim di seluruh Eropa berkumpul di kota London, Inggris. Mereka menggelar konferensi mendukung jilbab, sebagai reaksi atas keputusan pemerintah Prancis yang menyatakan melarang jilbab di institusi-institusi pendidikan dan institusi publik.

Konferensi dibuka oleh walikota London, Ken Livingstone dan dihadiri oleh 300 delegasi, mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional. Hadir pula dalam konferensi itu tokoh cendekiawan Muslim Sheikh Yusuf Al-Qaradawi dan Profesor Tariq Ramadan.

Dari hasil konferensi itu terbentuklah Assembly for the Protection of Hijab (Majelis untuk Perlindungan Jilbab) dan seluruh peserta mendeklarasikan tanggal 4 September sebagai International Hijab Solidarity Day (Hari Solidaritas Jilbab Internasional). Dalam konferensi itu, para peserta merancang berbagai rencana aksi untuk membela hak kaum perempuan Muslim untuk mempertahankan busana muslim mereka.

“Kampanye ini bukan hanya untuk wanita Muslim semata. Aksi ini ditujukan bagi siapa saja yang percaya bahwa merupakan hak seorang wanita Muslim untuk bisa mengenakan jilbabnya tanpa perlakuan diskriminatif dari masyarakat maupun pemerintahnya,” kata Koordinator Pro-Hijab, Abeer Pharaon ketika itu.

Sementaa itu, Livinstone-walikota London yang dikenal dekat dengan komunitas Muslim di Inggris-dalam pernyataannya mengatakan, “Jika kami membiarkan serangan terhadap Islam terjadi, saya tahu siapa yang akan menjadi sasaran tembak dan korban berikutnya,” tukasnya.

Sejak itulah, setiap tanggal 4 September, organisasi-organisasi dan umat Islam, terutama muslimah yang tinggal di negara-negara non-Muslim menggelar Hari Solidaritas Jilbab Internasional. Meski gaungnya tidak sampai ke negeri-negeri Muslim lainnya, termasuk Indonesia.

Padahal setelah kasus Marwa Al-Sharbini, kasus-kasus larangan jilbab masih terjadi di mana-mana. Beberapa negara bagian di Jerman sudah memberlakukan larang jilbab bagi para siswa sekolah, Mahkamah Agung di negara bagian Michigan AS, baru-baru ini mengabulkan permohonan pengadilan-pengadilan dibawahnya yang melarang muslimah berjilbab masuk ke ruang sidang, belum lama ini, seorang muslimah Selandia baru menggugat seorang hakim di Negeri Kiwi itu yang melarangnya masuk ke ruang sidang hanya karena ia berjilbab, bahkan di negara Turki yang pernah menjadi pusat kekhalifahan Islam, jilbab juga dilarang di institusi-institusi pendidikan terutama di universitas.

Tak ada alasan yang masuk akal atas semua larangan jilbab, kecuali karena fobia terhadap Islam dan arogansi budaya. Tapi dalam Islam, jilbab bukan semata-mata simbol agama tapi perintah yang diturunkan Allah Swt terhadap para muslimah untuk memuliakan kaum perempuan. Tak ada salahnya jika hari ini kita menunjukan solidaritas, jilbabkan aurat kita, jilbabkan hati dan perilaku kita. Have a blessed Ramadan.

Bencana dan Kualitas Puasa Kita

Baru kemarin rasanya kita bersuka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Mungkin di benak banyak orang sudah tersusun banyak rencana di bulan suci ini. Tapi memasuki sepuluh hari kedua Ramadan, masa pengampunan, kita, disentakkan oleh getaran gempa yang membuat panik dan membuat orang berhamburan ke luar.

Pada saat itu, mungkin kita tidak ingat lagi apa yang harus kita bawa, bahkan mungkin siapa teman di sebelah kita, yang penting segera menyelamatkan diri. Dalam kepanikan, seketika kita mendengar teriakan menyebut asma Allah berbaur dengan jeritan ketakutan atau tangisan kalut. Seolah, itulah menit-menit yang menentukan kehidupan kita ..


Berapa lama guncangan gempa kemarin? tiga sampai lima menit? tapi kita bisa melihat efek gempa yang seketika melululantakkan gedung-gedung, merenggut nyawa, membuat orang trauma dan mungkin memupuskan banyak rencana yang sudah dirancang selama bulan suci ini.

Gempa kemarin memberikan banyak pelajaran rohani. Bahwa kematian selalu mengintai kapan saja dan dimana saja kita berada. Ketika kematian itu tiba, bekal yang kita bawa cuma amalan selama hidup di dunia. Bahwa, sangat mudah bagi Allah untuk memerintahkan alam raya ciptaanNya untuk memberikan peringatan pada manusia. Bahwa betapa kecilnya kita di hadapanNya mengingat kepanikan dan ketakutan yang kita rasakan.

Pelajaran itu membuat saya mengkaji kembali ibadah puasa yang
telah saya lewati selama 12 hari kemarin, sudah berkualitaskah ibadah puasa saya atau hanya mendapatkan lapar dan dahaga? Apakah menahan lapar dan dahaga itu juga berdampak pada peningkatan kesalehan-bukan cuma kesalehan ritual tapi juga kesalehan sosial-keimanan, ketakwaan serta usaha untuk lebih mendekatkan diri pada Allah Swt danmendapatkan ampunannya? Sehingga jika sewaktu-waktu terjadi bencana dan saya menjadi salah satu korbannya, saya sudah punya cukup bekal untuk mempertanggungjawabkan kehidupan saya. Tiba-tiba saja hati saya menjadi ciut memikirkannya.

Di sela keprihatinan melihat kondisi para korban gempa kemarin, terselip rasa syukur karena Allah Swt masih memberikan kesempatan saya untuk hidup dan memberikan peringatan yang sempurna ini. Semoga amal ibadah para korban gempa yang meninggal dunia diterima di sisi Allah dan mereka yang ditinggalkan tetap diberi ketabahan dan kesabaran. Semoga sisa ibadah puasa Ramadan yang akan masih kita jalani lebih berkualitas dan kita bersegera meraih ampunanNya. Amiin ...




“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”.
(Surah Ali ‘Imran: 133)."



*introspeksi dari pojok kantor,
13 Ramadan 1430 H/3 September 2009


Tuesday, September 1, 2009

Ketika Masjid-Masjid Mulai Sepi


Suatu saat saya berkesempatan berkunjung ke Masjid Salman di kompleks universitas Institut Teknologi Bandung. Kebetulan waktu itu pas waktu dzuhur. Karena sedang tidak salat, saya memilih duduk di luar masjid, menunggu adik yang akan menunaikan salat.


Beberapa saat setelah adzan berkumandang. Dari luar masjid saya mendengar suara-sepertinya imam yang akan memimpin salat siang itu-yang meminta agar makmum merapatkan shaf sebelum salat dimulai. Saya tidak tahu bagaiman
a situasi di dalam masjid. Tapi yang saya dengar, beberapa kali suara itu meminta agar makmum merapikan dan merapatkan shafnya dan itu berlangsung selama beberapa menit. Belakangan, dengan nada tinggi dari suara yang saya dengar, sang imam sepertinya meneliti shaf-shaf yang masih longgar dan menginstruksikan dengan nada tegas agar makmum mengisi shaf-shaf yang masih longgar.

Saya sempat tersentak mendengar nada tinggi suara sang imam dan spontan nyeletuk "waduh, galak bener nih imam". Karena rasanya, baru kali ini ada seorang imam salat yang begitu perhatian untuk mengatur shaf para makmumnya, sampai makan waktu hampir lima
menit ia mengatur barisan salat itu. Biasanya, imam hanya mengingatkan saja seperti menjalankan "prosedur" biasa, perkara shaf yang dibelakang masih berantakan, yang penting sudah mengingatkan.

Usai salat, saya berkomentar sekali lagi pada adik saya yang baru keluar masjid, "imamnya galak amat ya ...". Adik saya tersenyum, "iya, dia sampai memperhatikan shaf dibelakang udah rapat
apa belum. jarang-jarang tuh imam yang mau repot-repot ngatur shaf makmum sampe teliti kayak gitu," komentar adik saya.

Saya cuma berdehem membenarkan. Obrolan itu berakhir sampai di situ, tak ada pembahasan panjang seperti biasanya jika kami menemukan hal-hal yang antagonis dengan praktik-pratik keislaman. Dalam hati, saya salut dengan imam salat siang itu, begitulah seharusnya seorang imam, pemimpin, men
gatur barisan makmumnya.

Tapi ... di bulan Ramadan ini, tiba-tiba saya teringat kembali dengan peristiwa Masjid Salman itu. Terutama saat salat di masjid dekat rumah dan melihat shaf-shaf salat yang berantakan. Padahal Ramadan belum lagi melewati 10 hari pertama, tapi jamaah salat tarawih di masjid sudah menyusu
t drastis yang menyebabkan barisan shaf salat makin sedikit.

Yang memprihatinkan, sudah jamaahnya makin menyusut, sepertinya sebagian jamaah tidak sadar (atau enggak tahu yah) pentingnya merapikan dan merapatkan shaf saat salat. Yang saya lihat, mudah-mudahan tidak
terlalu berlebihan kalau saya bilang menyedihkan, shaf-shaf salatnya amburadul. Selain renggang, barisannya juga tidak teratur. Kadang ada shaf yang dibiarkan kosong di tengah, sementara di sisi kiri dan kanannya terisi.  Parahnya lagi, sulit sekali meminta mereka untuk mengisi shaf-shaf yang kosong itu, agar barisannya rapat, rapi dan lurus. Duh ... ada apa dengan umat ini?.

Shaf dalam salat bukan masalah sepele, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan salat seperti sabda Rasulullah Muhamad Saw.


"Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan salat." (HR Bukhari)

Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah mengingatkan;

"Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan
jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi syaitan. Barang siapa menyambung shaf, maka Allah menyambungkannya dan barang siapa memutuskannya maka Allah memutuskannya." (HR Bukhari, Abu Dawud 666)


Itulah fenomena yang saya lihat ketika jamaah salat tarawih di masjid mulai menyusut. Sebuah fenomena yang memprihatikan sebenarnya karena kesadaran untuk merapatkan barisan shaf ketika salat berjamaah setidaknya mencerminkan sejauh mana ukhuwah islamiyah umat Islam. Menunjukkan kekuatan persatuan umat Islam. Jadi, kalau di dalam masjid saja sulit sekali diatur barisannya ... bagaimana kalau sudah di luar masjid? Tak heran kalau kita menyaksikan bahwa kita masih begitu lemah untuk melawan kekuatan syaitan yang ingin memecah belah umat.

Dalam masalah ukhuwah ini, seorang tokoh Yahudi pernah menyindir umat Islam ketika ditanya seorang wartawan apakah orang-orang Yahudi tidak percaya bahwa suatu saat mereka akan dikalahkan oleh umat Islam seperti yang ditasbihkan dalam kitab mereka.. Tokoh Yahudi  itu menjawab pertanyaan tersebut dengan tenang, "Masa itu masih sangat jauh kawan. Orang-orang Islam baru bisa mengalahkan kami kalau jamaah salat subuh mereka sama dengan jamaah salat jum'atnya".

Ironis bukan? so, mumpung masih momen Ramadan mari kita ramaikan masjid, rapatkan dan luruskan shaf  ...