Begitu membuka yahoo messenger pagi ini, muncul offline message dari seorang teman, pesan panjang yang menghentak kesadaran saya tentang makna pertemanan dan makna memperjuangkan prinsip dalam hidup. Begini isi pesannya;
"Jangan cari musuh, carilah teman" Sejenak motto ini tampak benar, tapi sebenarnya naif dan tidak berdasar. Kawan-Lawan adalah sebuah keniscayaan yang akan dengan sendirinya muncul ketika kita memperjuangkan suatu prinsip dalam hidup.
Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosul, semua orang Quraish menyukai dan menganggap beliau sebagai kawan. Namun sejak beliau memperjuangkan tauhid, sebagian kaumnya memutuskan menjadi lawan dan sebagian lain menjadi kawan.
Begitulah, ketika tidak ada sesuatupun yang kita perjuangkan dalam hidup, semua orang adalah kawan, tapi hidup itu sendiri menjadi tidak bermakna."
Beberapa saat saya mencerna isi pesan itu. Mungkin tak sepenuhnya benar. Kenyataannya, kadang kita harus siap kehilangan teman, dijauhi bahkan ditertawakan dengan sinis ketika kita mencoba mempertahankan-jika terlalu berat disebut memperjuangkan-sebuah prinsip dalam hidup kita.
Pada akhirnya, kita akan melihat siapa sahabat-sahabat terbaik kita. Mereka adalah sahabat seperti yang diamanatkan sahabat Rasulullah Saw, Ali bin Abi Talib. Beliau mendefiniskan seorang sahabat dengan kalimat pendek yang begitu indah dan dalam maknanya ...
"A friend cannot be considered a friend until he is tested in three occasions: in time of need, behind your back, and after your death." Ali ibn abi Talib (radiAllah anhu)

terimakasih buat semuanya yang telah menjadi dan pernah sahabat terbaikku ... just remember a ship that never sink, it's FriendShip ...
di kantor baru
di sinilah aku duduk sekarang
enggak di pojokkan lagi
tapi diapit oleh dua meja
tepat di depan anak tangga
lumayan,
sekarang dapet kursi
yang senderannya cukup nyaman
dari posisi duduk
bisa memandang ke luar jendela
yang kelihatan cuma langit biru
dan puncak bangunan toko
Index dan ACE
( bukan promosi loh )
kalau enggak ada Indah (reporter baru)
jadi satu-satunya perempuan
di ruang redaksi
(atau satu-satunya lelaki yah, hehehe)
dari tempat duduk ini
berharap bisa nulis-nulis
coret-coret puisi
untuk sementara
baru bisa nulis status dan notes di facebook
karena AC yang nyala di ruangan baru satu
rada gerah ...
mau bikin kopi juga masih harus minta
air panas ke "kantor" sebelah :)
udah ah ... gak penting banget ni tulisan
siap-siap pulang jam 5
go racing with angkot di jalan tol
bismillah ...
semoga selamat sampai rumah ...
Jumat malam saya menyaksikan tayangan pemilihan Puteri Indonesia 2009 di sebuah televisi swasta. Well, sekedar menghilang ke-bete-an karena tidak ada acara tv yang menarik malam itu. Acara pemilihan itu pun sebenarnya kurang menarik dan cenderung membosankan, apalagi salah satu pembawa acaranya, Dian Krisna yang menurut saya kelewat cerewet dan terlalu banyak komentar. Beda betul dengan gaya Tantowi Yahya yang cerdas dan elegan saat membawakan acara serupa tahun-tahun sebelumnya.
Tapi ada yang menarik perhatian saya ketika pemilihan sampai pada 10 besar finalis, saat Dian Krisna bertanya pada salah seorang finalis asal provinsi Nangroe Aceh Darusalam-NAD, Qory Sandioriva. Intinya Dian menanyakan apa betul Qory sampai minta ijin pada Pemda NAD untuk tidak mengenakan kerudung dalam kontes pemilihan Puteri Indonesia 2009. Si finalis yang cantik itu membenarkan dan bercerita bahwa ia memang meminta dan sudah mendapatkan ijin dari pemda NAD agar dibolehkan tidak mengenakan kerudung saat mengikuti kontes.
Jawaban itu membuat saya tercengang. Memangnya kenapa kalau Qory mengenakan kerudung untuk menampilkan karakter khusus provinsi yang diwakilinya? Tapi saya positif thinking saja, karena Qory dari informasi yang saya baca, memang tidak mengenakan kerudung sebelum mengikuti kontes puteri kecantikan itu. Jadi ia mengenakan kerudung cuma untuk mematuhi aturan provinsi NAD yang mewajibkan perempuan mengenakan kerudung karena NAD memberlakukan hukum Syariah Islam.
Tapi pertanyaan di benak saya terwakili oleh Dian Krisna yang lalu menanyakan, mengapa Qory tidak memilih tetap mengenakan kerudung karena dalam pemilihan Puteri Indonesia sebelumnya ada kontestan yang tetap mengenakan jilbabnya. Dan dengan pede-nya si puteri asal NAD itu sambil mengumbar senyum memberikan jawaban yang intinya begini; “karena rambut adalah keindahan bagi perempuan dan saya suka dengan keindahan.”

Jawaban Qory kali ini membuat saya tersenyum miris, apalagi jawaban itu konteksnya dalam masalah jilbab, kerudung atau apapun istilahnya. Terlebih lagi jawaban itu terlontar dari seorang perempuan muslim, mewakili bumi Serambi Mekkah pula dan calon puteri yang bakal mewakili nama bangsa Indonesia !
“Aduh tuan puteri … rambut memang bagian keindahan kaum perempuan. Tapi tahukan engkau puteri … bagi perempuan Muslim rambut adalah aurat yang wajib ditutup. Tak tanggung-tanggung, Tuhan menetapkan perintah menutup aurat itu dalam kitab suci Al-Quran,” gumam saya dalam hati. Bagaimana bisa seorang wakil dari provinsi yang membelakukan syariah Islam tidak paham hukum Islam yang bisa dibilang paling mendasar buat kaum perempuan.
Buat saya, jawaban Qory adalah sebuah ironi. Ironi buat NAD, buat para muslimah yang mengenakan jilbab maupun yang tidak mengenakan jilbab. Secara tidak langsung Qory mengatakan bahwa keindahan bagian tubuh perempuan memang untuk dipamerkan dan jadi konsumsi orang banyak.
Lebih dari itu, jawaban Qory menimbulkan kesan bahwa jilbab menjadi penghambat seorang perempuan untuk maju, dalam konteks ini untuk menjadi seorang puteri yang memiliki brain, beauty dan behaviour (seperti moto pemilihan Puteri Indonesia). Bukankah seharusnya ia bersikap sebaliknya, menunjukkan dan membuktikan pada khalayak bahwa perempuan berjilbab juga berkualitas.
Jawaban Qory sebenarnya menunjukkan rendahnya pemahaman Qory tentang keindahan dan kecantikan bagi kaum perempuan. Betapa mirisnya mendengar pernyataan Qory, karena sementara para muslimah berjilbab di negara-negara non-Muslim berjuang keras untuk mempertahankan jilbabnya bahkan sampai ada yang meregang nyawa. Di Indonesia, negeri mayoritas Muslim dan relatif memberi keleluasaan untuk mengenakan busana muslimah, ada perempuan Muslim yang dengan entengnya meremehkan jilbab demi kepentingan dunia yang sifatnya hanya sementara.
Qory mungkin lupa, hakekat kemuliaan yang sesungguhnya bagi manusia adalah, menjadi mulia di mata Allah Swt, Sang Pencipta yang telah memberikannya berbagai nikmat termasuk kecantikan wajahnya sehingga ia bisa terpilih sebagai kontestan ratu kecantikan. Bahkan Qori terpilih sebagai Puteri Indonesia 2009 !
Karena pemenang puteri Indonesia akan mewakili Indonesia dalam Miss Universe, jadi, nanti kita akan melihat seorang muslimah Indonesia, wakil dari provinsi yang begitu ketat menerapkan hukum Islam, memperlihatkan keindahan tubuhnya dalam busana pakaian renang di kontes Miss Universe. Sejatinya, ini kemunduran peradaban buat bangsa Indonesia ... Qory oh Qory ...