Jumat malam, ditelpon sama Mbak Atie, temen kerja di kantor. Nawarin, mau ikut ke Bandung enggak nemenin tamu dari Palestina karena kebetulan tamunya perempuan. Kebetulan Sabtu enggak ada acara kemana-kemana, saya iyakan ajakan itu.
Akhirnya Sabtu pagi, di tengah hujan lebat kami bertemu dan langsung menuju tempat menginap tamu dari Palestina itu di hotel Sultan. Saat itu saya masih blank, dengan tamu dari Palestina ini, yang saya tahu namanya Nadia, istri salah seorang petinggi Hamas. that's it. Ummi Nadia, begitu saya memanggil beliau setelah bertemu, akan ke Bandung menghadiri acara yang tentu saja berkaitan dengan Palestina.
Agak suprise juga ketika saya tahu bahwa Ummi Nadia ini ternyata istri dari Mousa Abu Marzuk, ketua biro politik Hamas setingkat sekjen.Buat orang lain mungkin enggak ada istimewanya, tapi buat saya bertemu dengan anggota keluarga Abu Marzuk setengah tidak percaya. Saya yang hampir setiap hari bergelut dengan berita Palestina, sering mengetikkan nama Abu Marzuk dan memuat fotonya untuk keperluan berita. Tapi hari itu, saya bertemu langsung dengan istri dan putera beliau bernama Muhammad. Subhanallah, hidup memang terkadang penuh kejutan.
Sehari bersama Ummi Nadia, saya jadi lebih tahu bagaimana kehidupan sebuah keluarga pejuang Palestina, terutama Hamas yang bersama jutaan rakyat Palestina lainnya terusir dari tanah airnya sendiri akibat penjahahan Israel. Mereka tidak diizinkan pulang ke tempat kelahiran mereka di Palestina. Saya kagum dengan keluarga Ummi Nadia yang well-educated dan memengang teguh ajaran Islam.
Ummi Nadia juga mengungkapkan kisah-kisah keajaiban yang dialami rakyat Palestina dalam melawan penjajahan dan penindasan Israel yang tidak banyak diketahui dan diungkap media massa. "Semuanya karena pertolongan Allah, Al-Quran adalah sumber kekuatan kami," begitu kata Ummi Nadia yang juga menceritakan bagaimana cara dan taktik perjuangan Hamas serta kecanggihan mereka membuat terowongan-terowongan di bawah tanah. Tentu saja ada bagian-bagian yang off the record demi keselamatan dan keamanan para pejuang di sana.
Sehari bersama Ummi Nadia, meninggalkan kesan tersendiri buat saya. Membuat saya berintrospeksi dan mengukur diri bahwa segala kesulitan dan ujian yang saya alami, enggak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan ujian dan kesulitan yang dialami rakyat Palestina di bawah keganasan rezim Zionis Israel, terutama kehidupan para perempuan dan istri-istri pejuang, yang membuat saya termotivasi untuk lebih menebalkan iman, lebih mendekatkan diri dan berserah diri pada Illahi.
Dukungan kita terhadap perjuangan rakyat Palestina tidak cukup hanya dengan aksi unjuk rasa atau boikot produk AS-Zionis saja, tapi harus disertai dengan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Karena dengan keimanan dan ketaqwaan itulah, Allah akan mengabulkan doa-doa kita untuk rakyat Palestina.
terima kasih Ummi, buat semua inspirasi dan pengalaman yang telah dibagi ... sehingga pagi ini, ibarat batere yang baru di-charge saya melangkahkan kaki dengan semangat lagi ...
selengkapnya laporan perjalanan dengan Ummi Nadia saya tulis disini: www.eramuslim.com
Percayakah Anda ada orang yang dipenjara dalam rumahnya sendiri? Kunci rumah disita, sehingga untuk keluar masuk dari rumah mereka sendiri pun harus minta ijin, tidak bisa leluasa bergerak di dalam rumah sendiri, diawai bahkan dilarang bicara pada orang asing.
Itu semua bukan kejadian dalam sebuah film, tapi benar-benar terjadi dalam dunia nyata, di Palestina. Progam 60 Minutes yang ditayangkan jaringan televisi CBS di bawah ini, membuktikan adanya kebijakan apartheid dan diskriminasi yang diterapkan rezim zionis Israel terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan di Tepi Barat.
Selain membangun tembok pemisah, Israel kerap mengerahkan tentara-tentaranya untuk merampas kebun-kebun, tanah dan rumah-rumah milik warga Palestina. Para tentara itu bahkan dengan seenaknya bisa masuk dan menduduki rumah keluarga Palestina. Mereka merampas kunci rumah, tinggal di dalamnya, tidur dan menggunakan telepon seenaknya.
Tayangan ini disiarkan CBS pada hari Minggu, 25 Januari kemarin, hasil laporan korespondennya Bob Simon, seorang Yahudi yang tinggal di luar kota Tel Aviv dan diproduksi oleh Robert G. Anderson.
Rekaman tayangan ini disebarluaskan kembali oleh Gaza Justice sebuah gerakan kampanye untuk mengkonter pemberitaan media massa yang tidak imbang atas apa yang dialami rakyat Palestina dibawah penjajahan Israel dan untuk mendorong para jurnalis agar mengekspos kejahatan dan kebijakan apartheid yang diterapkan Israel terhadap rakyat Palestina.
Nah, ingin tahu seperti apa diskriminasi dan kebijakan apartheid yang dilakukan rezim zionis Israel terhadap rakyat Palestina, khususnya di Tepi Barat, simak saja dalam tayangan 60 Minutes dibawah ini.

Many Gaza children, are developing a new vocabulary based on the atrocities they witnessed during the 22-day Israeli onslaught.
Shaimaa, for example, a 10-year-old elementary student in Gaza has a complete vocabulary of the alphabet collection written in her notebook. Shaimaa wrote "A" not for Apple but for Apache, "B" not for Ball but for Blood, "C" for Coffin and "D" for Destruction or Death, etc.

A kindergarten teacher in Gaza, Amal Yunis admitted that many children in her class are also using the same words with Shaimaa used in her alphabet vocabularies.
One day, when she taught her class, Yunis put the colourful pictures of apple, flower and rabbits to cheer the kids. And then she asked, "Kids, who knows a word that start with 'F'?" One of the kids named Amgad immediately answered,"I know Miss. F, it's for F-16."
Amgad's answer make Yunis very surprised. She tried to explain that the right answer is "Flower" but she failed. Instead of taking her explanation, the kids gave her another various answers for the words starting with "F" such as Fear, Flee and Fire.

Fadl Abu Hayen, director of the Center for Social Rehabilitation and Crisis Management said that children's new vocabulary reflect their horrible experiences during the-22 days of Israel's brutal agression. "They forgot all about joy, fun and peace. They only talk about war, blood and death," he said.
Now, almost all chilren in Gaza seem to speak a new languange of war, bombardment and death. A 6-year-old Alaa Al-Shawwa does not believe anymore the bedtime stories her parents told her. She will say, "No, mom. The girl in the red dress was not eaten by the wolf. She was killed by the Israelis."
excerpted from Islamonline