Sebuah sms dari temenku Lia masuk. Isinya;
"Assalamu'alaikum wr wb Lena. Masih mantau Gaza kan. Begitu tiba di kantor pagi ini, buka Era, tulisan mahasiswa Ind (Indonesia) di Al-Azhar yang berjudul WANITA2 PERMATA DAN GENOSIDA di GAZA langs sukses mengalirkan air mataku menyapa pagi. Tulisan yang sangat menyentuh relung kalbu. Gimana, dah siap jadi permata itu sahabatku???"
Saya tersenyum membaca sms sahabat saya, yang semalam menjadi tempat 'curhat' kegalauan hati saya melihat situasi menyedihkan di Jalur Gaza. Sama seperti Lia, perasaan saya campur aduk ketika membaca artikel berjudul "Wanita-Wanita Permata dan Genosida di Gaza" yang dimuat Eramuslim hari ini (klik disini). Antara terharu, sedih, sampai menghibur diri sendiri.
Saya bukannya tidak tahu betapa tangguhnya para ibu di Palestina. Beberapa tamu dari Palestina yang sempat bertandang ke kantor saya sering bercerita peran para perempuan dan ibu-ibu di Palestina dalam perjuangan melawan penjajahan Zionis Israel. Ada diantara mereka yang bahkan membantu para pejuang Palestina membuat roket-roket di dapur-dapur mereka. Sebagian besar para ibu di Palestina,
Saya menjawab sms sahabat saya itu dengan jawaban pendek, "Harus siap Lia" sambil menghela nafas panjang dan berdoa dalam hati, "Ya Allah, seandainya aku tidak bisa mempersembahkan seorang anak pun untuk menjadi pejuangMu. Berilah hamba petunjuk agar tetap bisa menjadi salah satu dari wanita-wanita permata itu."